Mengasah Naluri Berbisnis - Naluri bisnis merupakan kemampuan memandang dan merekontruksi pengalaman sehari-hari menjadi usaha atau bisnis yang menguntungkan. Naluri bisnis pada tiap orang pasti berbeda-beda, namun naluri bisnis merupakan kemampuan yang dapat diasah.
Kita ambil contoh, jika ditanya "Apa yang anda pikirkan saat melihat sepiring nasi?" Tentu jawaban tiap orang pasti berbeda-beda. Si A mungkin akan menjawab "Tiap liat nasi suka ingetan sama kampung halaman, disana banyak petani yang susah payah ngegarap sawah, dari pagi sampai sore, dari padi sampai jadi nasi." Si B menjawab "Gue santap sampai habis, soalnya lagi laper nih. hehe." C mungkin akan menjawab "Nasinya lembek, kayanya kebanyakan air deh pas lagi di tanaknya." Dan si D menjawab "Tidak semua orang sempet atau mau menanak nasi, entah karena sibuk atau sebagainya. Jadi, kalau saya mau melakukannya, pasti saya dapat menjualnya kepada orang lain." Dari keempat contoh tersebut, dapat kita tebak siapa yang memiliki naluri bisnis paling tajam.
Naluri merupakan kemampuan paling dasar dan hakiki yang dimiliki makhluk hidup (manusia dan hewan) agar dapat bertahan hidup. Orang atau binatang pasti merasa lapar dan pasti akan berusaha untuk mencari makan, seiring berjalannya waktu, naluri tersebut bakal terasah, sehingga orang sudah mulai makan sebelum perutnya keroncongan. Naluri tidak banyak berkaitan dengan kemampuan berfikir. Sebaliknya, pikiran dapat mempengaruhi naluri. Buktinya, kita tidak makan sembarangan makanan, bukan?
Naluri terhadap bisnis dapat dikendalikan oleh pikiran, sehingga untuk menjadi orang yang memiliki naluri bisnis yang tajam, kita dapat melatih pola dan gaya pikir kita agar senantiasa mengarah kepada bisnis. Kita dapat mengondisikan naluri kita supaya selalu siap mengendus peristiwa yang dapat dibisniskan.
Adapun bisnis, merupakan aktifitas yang dapat menghasilkan keuntungan baik secara materil maupun immaterial bagi semua pihak yang terlibat didalamnya, walaupun masing-masing pihak tidak menikmati porsi yang sama. Sebagai contoh, toko buku yang menjual sebuah buku kepada pembeli merupakan proses bisnis. Bila kita lebarkan cangkupannya, maka penerbit, percetakan, penulis dan pihak-pihak lain terlibat dalam lingkaran bisnis, karena pihak-pihak tersebut memperoleh keuntungan materil, walaupun masing-masing akan mendapatkan keuntungan yang berbeda-beda. Bagaimana dengan pembeli buku tersebut? Karena pembeli tersebut termasuk salah satu pihak yang terkait dalam bisnis, dia pun mendapatkan keuntungan, namun tidak secara materil, melainkan kenikmatan immateril.

Tidak ada komentar
Posting Komentar